Sabtu, 21 Februari 2015

Aku Bangga Jadi Anak Medan

Kami, Anak Medan Bung..
Itulah kata-kata yang sering aku dengar.
Banyak kalipun Cengkuneknya.
Beselemaklah kata-kanya.
Awak ini apalah, awak sikaleng-kaleng. :(
Yang polit lah kau jang.
THH pun kelen.
kemek-kemeklah kelen yang abis ultah itu.
ambillah kereta kau di parkiran Butet.
minjemlah rol nya.
Jangan Cakap-cakap kau Butet.

Yah, itulah kata-kata anak Medan yang sering aku dengar. dan tak akan ku dengar lagi di sini.
terkadang, aku mendengarnya juga risih. karena menurut aku itu begitu kasar. maka tak heran, kalau anak Medan di bilang dan terkenal dengan cakap nya yang kasar.
Eitchhh.. Tapi, jangan salah paham dulu.. Tidak semua anak Medan begitu yah.. 
Saya tersungging kalau ada yang bilang kalau semua anak Medan itu kasar.
Dan yang membuat saya bangga menjadi anak Medan adalah.. MAKANANNYA.











Ada Bika Ambon, Bolu Meranti, Duren Medan, Kerang, Mie Rebus, dan ini dia Sartika (Sambel Teri Kacang).
Nyammmi... ish.. jadi pengen buat restoran khas Medan Disini.

Oh, yah.. dan yang membuat Dinda bangga menjadi anak Medan adalah...
Kalau di meda itu punya banyak suku dan etnis, jadi jangan salah paham kalau di Medan cuma ada suku Batak aja, ketika Orang Medan berada di pulau orang pasti ditanya, kamu marganya apa?
Nah, begini aku jelaskan yah... 

Apa saja suku di Medan? Jika mendengar kata Medna, kebanyakan orang akan ingat dengan suku Batak. Bertemu dengan seseorang dan berkenalan lalu mereka tahu kamu dari Medan, pasti mereka bertanya kamu marganya apa? Padahal Medan sekarang sudah menjadi kota metropolitan yang sudah menjadi tempat yang menarik untuk ditinggali. Jadi di Medan tidak hanya ada satu suku yakni Batak saja. Ada banyak sekali suku di Medan yang mungkin kamu tidak ketahui. Medan sekarang layaknya seperti miniatur dari negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Untuk mengetahui apa saja suku di Medan, tak usah kamu pergi jauh ke Medan. Cukup menyimak terusan tulisan ini di paragraf selanjutnya.


Suku di Medan
Melihat data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) kota Medan, hehehe.. Tugas papa ini..
Yang mendata, Mensurvei..
Semoga nanti Dinda bisa melanjutkan perjuangan papa... kerja di situ.. Amiin,
 dapat kita lihat bahwa suku di Medan terdiri dari berbagai etnik. Suku asli yang dulu mendirikan kota Medan yaitu suku Karo. Suku Karo sekarang banyak tinggal di dataran tinggi Tanah Karo yakni kota Brastagi dan Kabanjahe. Bahasanya sangatlah berbeda dengan bahasa Batak yang sering kita dengar sebagai bahasa dialek khas Medan. Suku Karo Meliki Lima Merga yang disematkan di belakang nama seseorang sebagai bukti dari merga apa dia dilahirkan. Yang pertama yakni merga Karo-Karo yang memiliki 18 submerga. Yang kedua yakni Tarigan dengan 13 submerga. Ginting dengan 16 submerga menjadi urutan ketiga. Sembiring dengan 15 submerga di urutan keempat dan Perangin-angin dengan 18 submerga menjadi merga terakhir. Total jumlah submerga di suku Karo yakni 84 submerga. Jumlah masyarakat suku Karo yang tinggal di Medan sebanyak 4.10% dari total keseluruhan penduduknya.
Suku di Medan
Suku Batak menjadi suku kedua di Medan. Suku Batak berasal dari daerah Tapanuli. Ada beberapa suku di Batak yakni Batak Mandailing, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Pakpak dan Batak Karo. Suka inilah yang bahasanya dikenal dengan bahasa Medan. Presentasi penduduknya di kota Medan sebesar 21%. Suku Jawa rupanya menjadi penguasa di kota Medan dengan jumlah penduduknya mencapai 34% dari total penduduk kota Medan. Banyaknya penduduk suku Jawa yang menetap di Medan dikarenakan adanya program transmigrasi dari pulau Jawa ke Medan dalam rangka pemerataan penduduknya. Nah, saya adalah salah satu warga yang merupakan warga transmigrasi di Medan.. heheh :D
Tionghoa yang dari dulu sudah menempati Medan sejak masa perdagangan ketika zaman penjajahan menjadi suku terbanyak ketiga. Presentasi jumlah penduduk Medan dari suku Tionghoa yakni sebanyak 11%. Mandailing menjadi daftar suku di Medan selanjutnya dengan jumlah penduduknya sekitar 10%. Selanjutnya ada suku Minangkabau dengan jumlah penduduknya sekitar 9%. Lalu ada suku Melayu dengan jumlah penduduknya di kota Medan sebanyak 7%. Suku Aceh dengan presentase penduduknya sekitar 3% dan ada beberapa suku di Medan lainnya yang sepertinya akan terus bertambah. Melihat data di atas, pastinya kita bisa mengetahui kalau suku di Medan terdiri dari berbagai macam suku. Bahkan Suku Jawa menjadi penduduk terbanyak di kota Medan.
Ada lagi loh, yang membuat saya bangga menjadi anak Medan..
ini dia..'
WISATANYA..

Pulau Samosir

Tari Si gale-Gale


 Masih, Banyak sebenarnya wisata-wisata di Medan yang terkenal... mantap deh, gak nyesal kalau kamu jalan-kjalan ke Medan. dan bertemu dengan anak Medan..

oh, ya satu lagi..
kereta

Mopen

KUPJ

Rol



hahaha..  di sana kalau mau ke Bulan Bisa loh.. naek Mopen..
Terus kalau mau naek Mopen harus di hafal nomor beserta warnanya
Kalau nggak nanti bisa nyasarr Loh...

Terus, kalau mau tau kecepatan KUPJ.. itu melebihi kecepatan Kereta Maglev yang ada di China..
wuhhh.. mantap bro.. kalau mau nyoba.. cobain deh KUPJ..

Terus, kalau mau pigi-pigi naek kereta. tapi cuma muat berdua doang.. yah, maksimal bisalah  Bontig.. (Bonceng Tiga).. tapi, ntar di tangkap bapak Polisi lohh..  heheh

Dan kalau mau menggaris, yang kalian butuhkan adalah Rol.. heheh.. iya,, Rol yah manggilnya...
Udah itu aja...

dan itulah segenap cerita di Medan yang bisa aku buat..
Semoga kalian tertarik untuk mengunjungi kota kelahiran Dinda..
MEDAN..
Awak Anak Medan ini Bung... :D
HORAS..
KEK GINI aja.. Udah yahh... Hehehe.

Selasa, 17 Februari 2015





Sayang Bunda...
Tak ada yang bisa ku ungkapkan banyak disini, BUNDA
mungkin, aku tidak seperti anak-anak yang lain, yang kuliah di suatu perguruan tinggi negeri bagus dengan jurusan yang bagus.
tapi, dinda berusaha menjadi orang yang bagus. tidak sekedar berada di fakultas dan jurusan yang bagus
menjadi, anak yang berbakti dan selalu menjaga sikap dengan Bunda..
Uhibbukafillah Bunda...
maafkan Dinda, ketika dulunya banyak sekali kesalahan dinda yang dinda perbuat ke Bunda..
bahkan sampai membuat Bunda menangis..

Minggu, 08 Februari 2015

dars 1- Pengantar Ilmu Bahasa Arab

BISSMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Program BISA (Belajar Bahasa Arab) Via WA
 
Saudara ku, Mulai dari sekarang, marilah kita semangat untuk belajar bahasa arab, karena sesungguhnya bahasa kita asli, yah, bahasa arab. perlahan-lahan. insya Allah bisa kok. semangat. :D
Saya juga termasuk pemula dalam belajar bahasa arab. jadi mohon maaf jika penjelasannya sangat singkat dan terperinci.

Dars-1 PENGANTAR ILMU BAHASA ARAB
            ilmu bahasa arab mempunyai beberapa cabang, ada banyak sekali cabang ilmu dalam bahasa arab, tetapi bagi kita yang pemula, untuk mengetahui bahasa arab, maka kita cukup mengetahui 2 cabang saja yah. adapun 2 cabang ilmu dalam bahasa arab itu adalah:
1. Ilmu Nahwu
2. Ilmu Sharaf
Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari kedudukan kata dengan memberikan kaidah cara menyusun kalimat dengan benar dan dengan pemberian harkat.
Sedangkan Ilmu Sharaf adalah Perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Tujuan kita mempelajari ilmu nahwu dan ilmu sharaf adalah agar kita bisa membuat kalimat dalam bahasa arab sesuai dengan kaidah-kaidahnya.
Mempelajari ilmu nahwu dengan ilmu sharaf ini sama dengan kita belajar Grammar dalam bahasa inggris. ada bentuk perubahan katanya. misalnya : Present Tense -------> Past Tense namun dalam bahasa arab Perubahan bentu kata nya adalah : Telah (Fiil Madhly)---> Sedang ( Fiil Mudhary) ---> Perintah (Fiil Amar) dan yang menjadi kata dasar adalah Fiil Madhy. Oh yahh, sebelumnya saya lupa, di dalam bahasa arab, juga sama juga belajar seperti bahasa inggris, kalau dalam bahasa inggris kan kita mengenal Past, Present dan Future. nah, kalau di dalam bahasa Arab kita mengenal Fiil Madhy (Telah). Fiil Mudhary (Sedang) dan Fiil Amar ( Akan). Mudah kan?? Belajar Bahasa Arab Memang Mudah Tapi SULIT.. hehehe..



Afwan Saaudara, baru ini ini yang dinda tau. bagi teman0-teman yang punya ilmu tentang ini, tolong di bagi..
karena sesugguhnya, bagilah ilmu yang kamu ketahui kepada orang walaupun itu hanya sekecil biji kurma.



Untuk DARS 2, Insya Allah saya akan menulis TENTANG 3 JENIS KATA DALAM BAHASA ARAB.. Tunggu Ya.. HORASS...... :D

Sabtu, 07 Februari 2015

Meraih Prestasi Dengan Semangat Qur'ani.

                                         Semangat Prestasi Semangat Qurani

  ''Allah Akan Meninggikan Derajat Seseorang yang Dekat Dengan Al-Qur'an."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ . (متفق عليه)
“Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaq Alaih)
Dan dalam Al-Qur`an disebutkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membaca Al-Qur`an dengan tartil,
ورتل القرءان ترتيلا . (المزمل : (4)
“Dan bacalah Al-Qur`an dengan setartil-tartilnya.” (Al-Muzzammil: 4)

Adapun maksud dari mengajarkan Al-Qur`an, yaitu mengajari orang lain cara membaca Al-Qur`an yang benar berdasarkan hukum tajwid. Sekiranya mengajarkan ilmu-ilmu lain secara umum atau menyampaikan sebagian ilmu yang dimiliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala dari Allah, tentu mengajarkan Al-Qur`an lebih utama. Bahkan ketika Sufyan Ats-Tsauri ditanya, mana yang lebih utama antara berjihad di jalan Allah dan mengajarkan Al-Qur`an, dia mengatakan bahwa mengajarkan Al-Qur`an lebih utama. Ats-Tsauri mendasarkan pendapatnya pada hadits ini.
Namun demikian, meskipun orang yang belajar Al-Qur`an adalah sebaik-baik orang muslim dan mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain juga sebaik-baik orang muslim, tentu akan lebih baik dan utama lagi jika orang tersebut menggabungkan keduanya. Maksudnya, orang tersebut belajar cara membaca Al-Qur`an sekaligus mengajarkan kepada orang lain apa yang telah dipelajarinya. Dan, dari hadits ini juga dapat dipahami, bahwa orang yang mengajar Al-Qur`an harus mengalami fase belajar terlebih dahulu. Dia harus sudah pernah belajar membaca Al-Qur`an sebelumnya. Sebab, orang yang belum pernah belajar membaca Al-Qur`an, tetapi dia berani mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain, maka apa yang diajarkannya akan banyak kesalahannya. Karena dia mengajarkan sesuatu yang tidak dia kuasai ilmunya.

Hai saudara ku yang seiman, mari kita berprestasi dengan al-qur'an, mari kita perkuat iman kita dengan alqur'an. jangan kita hanya memperdebatkan pemerintah saja, berdemo, mencari kesalahan pemerintah, namun membaca al-quran kita tidak pernah. naudzubillahmindzalik... karena rasuluallah menyukai umatnya yang membaca al-quran dan mengajarkannya, maka keduanya harusah kita lakukan. bersikaplah sewajarnya saja, jangan terlalu beriming-iming untuk memperdebatkan masalah ini masalah itu. toh, gak ada yang mendengarkan kok. intinya kita harus perkuat iman kita dengan al-qr'an yah...

seseorang yang selalu hidup dengan al-qur'an akan mendpatkan kemulian di dunia maupun kemulian di akhirat. seseorang mulia di dunia adalah seseorang yang ahli dalam alqur;an. dan seseorang akan mulia di akhirat akan diberikan ganjaran oleh Allah, berupa: 1. Mendapatkan pakaian kemuliaan. 2. tidak disentuh oleh api neraka. 3. Mendapatkan surga tingkatan tinggi. 4. Mensyafaai orang tua.

SUBHANAALLAH bukannnn?
ketika di akhirat. orang tua kita akan mendapatkan safaat ketika anaknya telah menjadi ahli qur;an..
marii kita senantiasa beristiqomah dalam mempelajari al-qur'an yah..

nah, dalam islam ada loh perumapaan-perumpaan orang yang membaca qur'an..
simak hadist di bawah ini:

عن أبى موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم: “مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مقل الأترجة: ريحها طيب وطعمها طيب, ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن كمثل التمرة: لا ريح لها وطعمها حلو, ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن كمثل الريحانة: ريحها طيب وطعمها مر. ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة, ليس لها ريح وطعمها مر. ” متفق عليه
“Artinya: Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah. Baunya harum dan rasanya lezat. Dan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah kurma, baunya tidak ada dan rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Qur’an seperti buah raihanah, baunya lumayan dan rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah hanzholah, tidak memiliki bau dan rasanya pahit.” (HR. Muttafaq alahi).
Begitu indah bunyi hadits di atas. Di dalamnya menjelaskan kepada kita tentang perumpamaan manusia dalam Islam. Sadar atau tidak sadar, sebagai seorang muslim dalam Islam ini, ternyata diri kita masing-masing memiliki ‘rasa dan bau’tersendiri di hadapan al-Qur’an. Dalam arti, pada setiap kehidupan ini, di manapun kita dan kapanpun serta bersama siapapun kita, masing-masing memiliki  pancaran sosial yang berbeda-beda.
Bila dilihat dari bunyi hadits shahih di atas, setidaknya akhlak dan perilaku setiap muslim bisa dianalogikan dari interaksinya bersama al-Qur’an.
Secara eksplisit, kandungan hadits di atas memuat beberapa prototype manusia muslim yang perlu kita ketahui bersama, yaitu:

1. Orang mukmin (beriman) yang suka membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah.

Sudah selayaknya setiap muslim untuk bisa, suka dan pandai membaca al-Qur’an dalam hidup ini. Kenapa? Karena ibadah membaca al-Qur’an setiap harinya adalah bagian dari salah satu bentuk ibadah utama bagi kekokohan diri kita . Ketika seseorang rajin tilawah (membaca) al-Qur’an dalam jumlah ayat, surat dan juz yang cukup, maka efek positif dari tilawah itu Insya Allah akan memberikan pancaran cahaya bagi setiap detik hidupnya. Tilawahnya dinilai ibadah dengan pahala yang berlipat-lipat, hatinya selalu connect (tersambung) dengan Allah swt, jiwanya sejuk dengan siraman kelembutannya, pikirannya penuh dengan pesan-pesan ilahi dan dirinya bersama makhluk-makhluk Allah lainnya dalam tasbih dan tahmid memuji Allah swt. Tentu saja dari ketekunannya dalam membaca ini, dirinya akan menjadi baik, mudah mengingat Allah, sigap dan berhati-hati dari segala godaan penyimpangan dan maksiat, dan penuh harap dan cemas kepada ridho-Nya. Makanya, Rasulullah memperumpamakan muslim yang seperti ini dengan buahutrujjah. Atau dengan bahasa familiarnya bagi kita adalah seperti buah durian yang sangat lezat. Baunya harum dan rasanya lezat sekali. Inilah sifat muslim ideal itu.
Buah Kurma 

2. Orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah kurma. Tidak ada baunya dan rasanya manis.

Karena keimanan setiap muslim itu bertingkat-tingkat di hadapan Allah, maka ada juga mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an. Dirinya hanya cukup dengan tilawah yang apa adanya, sehingga sedikitpun tidak merasakan kenikmatan dalam membacanya. Akibatnya, kewajiban tilawah al-Qur’an pun berada pada tingkatan terendah. Nauzubillah. Padahal Rasulullah saw sebagai guru al-Qur’an bagi umatnya mewanti-wanti kita, umatnya untuk menjadikan tilawah harian sebagai indikasi keimanan kita kepada Allah swt (lihat Qs al-Baqoroh: 121). Ya, walaupun amalan ibadah yang lainnya cukup baik, namun apabila sisi al-Qur’an ini terlupakan, jadinya aroma keimanannya pun menjadi berkurang. Oleh karena itu, Rasulullah saw menyamakannya seperti buah kurma. Rasanya manis tapi tidak ada baunya.

3. Orang munafik yang suka membaca al-Qur’an seperti buahraihanah. Baunya enak, tapi rasanya pahit.

Kaum munafikin adalah satu dari ketiga golongan manusia yang diklasifikasikan dalam al-Qur’an selain orang-orang kafir dan orang-orang mukmin. Jumlah kaum munafik ini selalu saja berada pada populasi yang besar ketimbang kedua golongan lainnya. Munafik adalah beriman secara zahir tapi kafir secara batin. Nah, erat kaitannya hal muamalah dengan al-Qur’an, ada orang munafik yang suka dan pandai membaca al-Qur’an. Tapi sangat disayangkan, tilawahnya itu hanya sekedar pemoles bibir dan suaranya saja. Sementara isinya yang indah tidak sampai di bawah pada praktek sehari-hari. Dengan kata lain, ia pandai mengaji (tilawah) tapi maksiat jalan terus. Nah, menurut Rasulullah, orang munafik semacam ini tak ubahnya bagaikan buah Raihanah (dalam bahasa arab) yang baunya enak tapi rasanya pahit. Pancaran keindahan ayat-ayat al-Qur’an yang ia baca itulah yang menjadikannya dirinya ‘baunya ‘ enak. Tapi, sayang..enaknya hanya di bibir saja, sedangkan isinya tidak diamalkan. Karenanya, jadilah dirinya pahit.

Buah Hanzalah

4. Yang terakhir, orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an, seperti buah Hanzholah. Tidak memiliki bau dan rasanya pahit.

Inilah sejelek-jeleknya contoh manusia. Sudah munafik yang dibenci Allah, eh dia juga tidak suka membaca al-Qur’an. Bisa jadi akibat kemunafikannya itulah ia tidak beriman dengan al-Qur’an sehingga mengakibatkan dirinya sama sekali tidak memiliki pancaran Islam dan kelembutan al-Qur’an. Aromanya pun nihil dan rasanya pahit sekali. Semua penampilannya buruk di hadapan manusia. Apalagi di hadapan Allah swt. Baik secara akhlak maupun psikis. Wajar saja, jika Allah menjadikan tempat akhir mereka kelak di yaumil akhir pada kerak neraka yang paling dalam. Na’uzubillah min zalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat yang satu ini. Amiin.
Jadi, mari kita merenung dan intropeksi bersama, manakah di antara keempat sifat manusia di atas yang melekat pada diri kita??
Semoga kita bisa memperbaiki diri dalam bermuamalah dengan al-Qur’an ini, sehingga Allah memberikan kita ‘aroma dan rasa’ yang menyedapkan bagi lingkungan sosial dan kehidupan kita, dari dunia sampai akhirat nanti.

آمين يا مجيب السائلين

Wallahu a’lam bish-showab